Karir Cemerlang “The Silent Vuvuzela”, Louis Oosthuizen

Ketika terompet Vuvuzela menjadi bahan perdebatan semua pihak dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan akibat suara nyaring nya yang dianggap mengganggu konsentrasi beberapa pemain di lapangan, maka alat tiup pemacu semangat tradisional masyarakat Afrika Selatan itu justru menjadi sebuah benda yang terpopuler selama berlangsungnya pesta sepak bola dunia tersebut.

Frekuensi suara yang dihasilkan Vuvuzela disinyalir mampu menembus batas keriuhan tertinggi di stadion sepak bola yang padat penonton ketika ditiup oleh pemiliknya, yang juga dianggap sebagai simbol pembawa gaung kesuksesan negeri Afrika Selatan sebagai penyelenggara Piala Dunia 2010.

Lengkingan vuvuzela kini telah mereda seiring berakhirnya Piala Dunia pada tanggal 12 Juli yang lalu. Kepopulerannya pun mulai terlupakan, mengikuti langkah kegagalan tim tuan rumah Afrika Selatan di babak penyisihan.

Namun gaung kejayaan Afrika Selatan di kancah persaingan olah raga dunia kembali terdengar satu minggu setelah Piala Dunia berlalu melalui seorang pria kelahiran Mossel Bay, Afrika Selatan, bernama Louis Oosthuizen, yang berhasil mengungguli para kampiun golf dunia di lapangan golf legendaris St. Andrew Old Course, Skotlandia, dalam THE 139th OPEN CHAMPIONSHIP.

Bagaikan kekuatan lengkingan vuvuzela, Oosthuizen, mampu membawa negara nya Afrika Selatan kedalam jajaran negara-negara “penghasil” pegolf berkualitas dunia, dengan mengikuti kiprah para pendahulunya seperti Gary Player, Ernie Els, Retief Goosen dan Trevor Immelman, dalam persaingan kejuaraan Major dunia. Walaupun hal itu dilakukannya tanpa kebisingan, untuk selanjutnya pantas menerima sebutan baru “The Silent Vuvuzela”.

Bahkan suara alunan alat musik tiup tradisional khas negeri Skotlandia, “bagpipe”, yang menyambutnya sebagai pemenang di hole terakhir, seperti mampu tersamarkan oleh kecemerlangan pegolf berusia 27 tahun tersebut dengan menciptakan margin kemenangan 7 stroke dari pegolf nomor dua dunia, Lee Westwood.

Louis Oosthuizen memasuki THE 139th OPEN CHAMPIONSHIP di St Andrews sebagai pegolf yang berada di peringkat 54 di Dunia, yang hanya memiliki satu gelar kejuaraan besar sepanjang karirnya. Ia berhasil membukukan skor 65 pada hari pertama yang menempatkannya di tempat kedua di bawah hasil skor spektakuler 63 yang dibukukan oleh pegolf belia Irlandia Utara Rory McIlroy. Oosthuizen mengambil alih pimpinan pada putaran kedua dengan mengemas skor 67, ketika McIlroy justru terpuruk dengan skor 80.

Sejak itu “tiupan” vuvuzela seakan-akan tak dihentikannya dari puncak leader board yang terus didudukinya sepanjang dua putaran terakhir, untuk mengemas skor 272 (16 under) sebagai juara baru The Open Championship.

Louis Oosthuizen merupakan pegolf yang berada dibawah manajemen Ernie Els Foundation. Karir amatir nya yang cemerlang dengan 6 gelar juara termasuk World Junior Championship tahun 2000, menarik perhatian Els yang lalu bertindak sebagai mentornya hingga sekarang.

Dua tahun setelah melepas status amatir nya pada tahun 2002, Oosthuizen, meraih gelar profesional pertamanya dalam Vodacom Origins of Golf Tour at Arabella dibawah sanction Shunshine Tour yang diketahui banyak melahirkan pegolf-pegolf terbaik di Afrika Selatan.

Bergabung bersama European Tour pada tahun 2004, Oosthuizen, sedikit demi sedikit menapaki jenjang karirnya, hingga pada tahun 2009 berhasil mencapai peringkat 31 dalam persaingan Race to Dubai serta membawa namanya ke zona peringkat 50 besar dunia.

Gelar European Tour pertamanya baru diperoleh pada bulan Maret 2010 dalam Open de Andalucia de Golf di Spanyol, yang mana ia sempat menyangka bahwa kemenangan itu merupakan klimaks kejayaannya di tahun 2010 ini.

Namun perjuangannya yang di tambah sedikit nasib baik di tahun 2010 ini, justru membawa pria Afrika Selatan keturunan Belanda bernama lengkap Lodewicus Theodorus Oosthuizen tersebut mencapai puncak kejayaan tertinggi dalam sejarah hidupnya dengan menjuarai THE 139th OPEN CHAMPIONSHIP sebagai salah satu Major Championship terbesar dan tertua di dunia, di atas lapangan yang juga tercatat sebagai lapangan paling bersejarah di dunia yaitu St Andrews Old Course.

Sebuah prestasi dan gelar dunia yang ia persembahkan bagi negaranya serta dua wanita yang sangat di cintai nya yaitu Nel-Mare yang telah memberikannya seorang putri cantik bernama Jana.
Copyright © 2010 Kariza Viratama. All Rights Reserved