Singha E-San Open
Berebut Kesempatan Dalam Nuansa Persaingan “Semi Lokal”

Level atau tingkat persaingan dalam olah raga golf dimanapun, tentunya tidak mutlak diukur dari jumlah negara atau kelompok tertentu yang mengikutinya. Pasalnya selama ini diketahui bahwa olah raga golf lebih banyak mengacu kepada persaingan individual, walaupun kejuaraan antar tim juga diakui sebagai salah satu kategori persaingan yang cukup banyak mendapat perhatian.

Namun jumlah peserta luar negeri dalam sebuah seri kejuaraan golf (individual) di negara manapun, tentunya sedikit banyak cukup mempengaruhi nuansa persaingan dari kejuaraan tersebut, terutama bagi para pemain tuan rumah.

Seperti nuansa yang tercipta dalam seri ASEAN PGA, Singha E-San Open yang berlangsung pada tanggal 15 hingga 18 Juli 2010 yang lalu, lebih terasa seperti sebuah kejuaraan lokal saja layaknya, dimana dari 138 nama pegolf yang turun bermain di Singha Park Khon Kaen Golf Club-Thailand, hanya sekitar 18 pemain saja yang datang dari luar negeri. Bahkan 10 diantaranya dapat di kategorikan sebagai peserta “tamu”, karena datang dari negara-negara di luar Asia Tenggara seperti Pakistan, Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Kondisi tersebut tentu sedikit banyak memberikan keleluasaan tersendiri bagi para pegolf “bintang” tuan rumah untuk dapat kembali mengambil peluang dari situasi tersebut, dimana seperti diketahui Thailand hingga saat ini masih tercatat sebagai negara yang paling banyak menempatkan para pegolf-nya sebagai juara dalam persaingan ASEAN PGA dan Mercedes- Benz Tour musim tahun 2010 ini, sebut saja namanama seperti Udorn Duangdecha, Thanyakon Khrongpha dan Chawalit Plaphol. Apalagi dalam seri ke 6 ASEAN PGA ini hanya dua saja pegolf dari negara
pesaing terberatnya, Filipina, yang tercatat dalam entry list, mereka adalah Jay Bayron dan Gene Bondoc.

Hasilnya pun tak jauh dari perkiraan banyak pengamat, ketika juara ICTSI Mt. Malarayat Championship, Chawalit Plaphol, berhasil Thaworn Wiratchant memimpin leader board sepanjang tiga putaran, dengan membuka skor 65 pada hari pertama, 70 di hari ke dua dan 71 di hari ke tiga.

Namun ambisi Plaphol untuk menorehkan rekor back to back win harus di benamkannya dalamdalam saat performanya “anjlok” di putaran terakhir. Dua bogey beruntun yang diciptakannya di dua hole terakhir menurunkannya ke posisi T3 bersama pegolf Pakistan yang kini bermukim di Thailand, Nadeem Inayat.

Sebaliknya pegolf veteran, Thaworn Wiratchant dan Juara Order of Merit ASEAN PGA 2009, Namchok Tantipokhakul, justru nampak “memanas” di putaran terakhir, untuk samasama mengemas skor total 276 (12 under), sehingga babak sudden death “all Thailand” play off tak dapat dihindari.

Dalam putaran reguler terkhirnya Namchok sebenarnya sudah berada “di atas angin”, dimana ia telah memimpin satu stroke dari Thaworn Wiratchant hingga hole ke 16. Namun birdie spektakuler yang dibukukan Thaworn di hole 17 justru hampir saja membalik keadaan. Beruntung Namchok masih mampu mengendalikan ritme permainannya dengan menciptakan par di hole terakhir.
Namun kondisi tersebut tak dapat di ulangnya dalam babak sudden death play off menghadapi Thaworn, dimana ketegangan tak dapat di sembunyikan dari wajahnya saat memasuki tee 18. Alhasil pertarungan dua “jagoan negeri gajah putih” tersebut lebih merupakan pembuktian level dan pengalaman bertanding diantara mereka berdua, ketika bola tee shot Namchock mendarat di area rough tebal hole 18 untuk hanya berpeluang menghasilkan par, sementara Thaworn begitu tenang menyelesaikan babak tambahan tersebut dengan hasil birdie.

Hasil tersebut membawa Thaworn ke tangga juara ASEAN PGA untuk yang kedua kalinya setelah tahun 2009 lalu menjuarai Heritage Melaka Classic di Malaysia, sekaligus mempertahankan “tradisi” juara “muka lama”
dalam musim tahun ini mengikuti nama-nama seperti Artemio Murakami, Udorn Duangdecha, Juvic Pagunsan dan Chawalit Plaphol. Sedangkan “langganan” leader board Jay Bayron, sementara harus menanggalkan reputasi nya, setelah kali ini gagal melewati batas cut off.

Di sisi lain pegolf Indonesia, Benny Kasiadi, hampir memastikan tempatnya dalam Tour Championship 2010, Mercedes-Benz Masters Indonesia, di Emeralda Golf Club pada bulan Oktober mendatang, setelah berhasil bermain empat putaran penuh dalam tiga seri ASEAN PGA yang diikutinya selama ini untuk menduduki peringkat Order of Merit ke 58. Walaupun dalam putaran terakhir Singha E-San Open ini, ia tampil dibawah form dengan perolehan skor 80 untuk mengemas skor total 303 (+15), dan berada di posisi 54 dari jumlah 56 pegolf yang bermain sebagai weekend players.

Kesempatan bagi para pegolf Indonesia lainnya untuk berhak turun dalam Tour Championship 2010, masih cukup terbuka melalui tiga seri Mercedes-Benz Tour (ASEAN PGA) kedepan, masing-masing Mercedes- Benz Masters Singapore, Mercedes-Benz Masters Malaysia dan Mercedes-Benz Masters Vietnam, yang akan berlangsung antara bulan Agustus hingga bulan September 2010 mendatang.
Copyright © 2010 Kariza Viratama. All Rights Reserved