Travelers Championship
Kesaksian Dan Air Mata “Anak Urakan” Dari Bagdad

“Sejujurnya, saya selalu menyangsikan kemampuan saya selama ini. Saya tahu saya sanggup melakukan yang terbaik, namun saya tidak cukup kuat untuk menopangnya karena sifat emosional saya yang terlalu berlebihan”, Bubba.

Bukan Bagdad ibu kota negeri Irak di Persia, melainkan sebuah kota kecil berpopulasi 1.940 jiwa di Santa Rosa County, Florida, Amerika Serikat yang diketahui sebagai tempat bertumbuhnya seorang anak hiperaktif bernama Gerry Watson dengan nama panggilan “Bubba”.

Di vonis mengidap penyakit kejiwaan “Attention Deficit Disorder” sejak usia 7 tahun, Bubba Watson memang sulit untuk menghentikan sifat menarik perhatian orang secara berlebihan hingga dirinya tumbuh menjadi seorang pegolf profesional.

Soal memarahi caddie dengan perkataan kotor merupakan spesialisasi pegolf kidal berusia 31 tahun tersebut, termasuk kebiasaan berperilaku “jahil” melakukan swing dengan bola dari “kotoran sapi” di halaman rumahnya, saat masih junior.

Tak pernah mau menerima pelajaran formal merupakan salah satu “penyakit” nya, walaupun orang tuanya selalu memaksanya untuk bersekolah. Alhasil reputasinya sebagai “trouble maker” di sekolah tak dapat dihindarinya.

Kelakuan “aneh” menarik perhatian orang pun kerap ditunjukkannya di lapangan hampir dalam setiap turnamen

yang diikutinya, termasuk salah satu nya adalah ketika dengan sengaja menjadikan dirinya guncingan dan tertawaan orang saat menggunakan klab dengan shaft berwarna merah muda “menyala”, yang mana hanya para pegolf wanita saja yang biasanya menggunakan klab dengan warna tersebut.

Ketika John Daly sempat menjadi buah bibir atas perilaku negatif nya, maka Bubba Watson bahkan mampu melebihi “kebengalan” Daly untuk disebut sebagai pribadi yang urakan.

Namun semua itu berubah drastis saat dirinya berjalan dengan tenang dan tegap di hole 18 TPC River Highlands, Connecticut, sebagai pimpinan leader board dalam Travelers Championship pada tanggal 27 Juni 2010 yang lalu. Begitupun saat dirinya berhasil menutup permainannya sebagai juara dalam extra hole ke dua babak sudden death play off “segitiga” menghadapi Corey Pavin dan Scott Verplank.
Air mata kegembiraan tak mampu dibendung oleh “anak urakan” dari Bagdad tersebut saat tenggelam dalam pelukan istrinya, Angie, sesaat setelah menyadari dirinya berhasil meraih gelar PGA Tour pertama sepanjang karirnya.

“Kemenangan dan kemuliaan bagi Tuhan...”, begitu bisik Angie di telinga sang suami saat memeluknya. Sebuah bisikan yang sungguh menyadarkan dirinya bahwa sebagai salah seorang anggota keluarga pemeluk Kristen yang taat, Tuhan benar-benar telah menjamah dirinya saat itu.

Permasalahan keluarga yang dihadapinya saat itu pun ibarat mendapat kesejukan di tengah gurun tandus, dimana ayah nya yang telah menderita penyakit rheumatoid arthritis sejak 20 tahun lalu telah di vonis mengidap kanker paru-paru pada bulan Oktober 2009. Begitupun Angie Istrinya yang didiagnosa “menyimpan” tumor ganas di otaknya sejak bulan Desember tahun lalu.

“Sejujurnya, saya selalu menyangsikan kemampuan saya selama ini. Saya tahu saya sanggup melakukan yang terbaik, namun saya tidak cukup kuat untuk menopangnya karena sifat emosional saya yang terlalu berlebihan”, ungkap Bubba dengan air mata yang berlinang.

“Sebagai seorang Kristiani, saya mempercayai bahwa ini semua merupakan berkah yang tak ternilai dari Tuhan. Karena DIA telah memberikan golf kepada saya untuk dapat mengatasi masalah berat yang tengah melanda keluarga kami”, tambah pegolf yang sebelum ini dikenal sebagai seorang touring pro yang arogan dan berperangai sisnis tersebut.

Skor total 266 (14 under) ditambah perjuangannya di dua hole tambahan dalam seri turnamen berhadiah enam juta dolar AS tersebut, menjadikannya sebagai satu-satu nya orang yang layak untuk menerima hadiah uang sebesar US$1,080,000, sekaligus “pencerahan” baru sebagai harapan keluarga.
Copyright © 2010 Kariza Viratama. All Rights Reserved