kepada suatu persoalan
diluar zona kenyamanan. Bukan masalah mampu
atau tidaknya mengatasi kendala, karena bagi
saya setiap kendala selalu ada jalan keluarnya.
Akan tetapi lebih kepada hal ketidak mampuan
untuk menahan “rasa sakit” nya karena terlalu
lama terlena berada dalam comfort zone.
Beribu maaf jika harus saya katakan bahwa masih
banyak para pegolf kita baik pro maupun amatir yang terjebak di dalam situasi kenyamanan
statis seperti itu, termasuk beberapa orang
terdekat saya. Dan hal itu yang menjadi tugas
berat para pengayom untuk “menuntun”
kembali mereka ke “dunia nyata”, dan kembali
memotivasi mereka untuk segera “BANGKIT”.
Mampu BANGKIT dari keterpurukan merupakan
bentuk kesuksesan yang saya anggap paling
besar dari seseorang, ketimbang sekedar
mampu meraih kejayaan.
Saya ambil contoh ketika pegolf Thailand,
Thaworn Wiratchant, menerima kenyataan skor
78 pada hari pertama CIMB Asia Pacific Classic
Invitational Regional Qualifier di Emeralda Golf
Club pada tanggal 5 Juli lalu, yang mana dirinya
pasti menyadari bahwa hanya “keajaiban” yang
mampu membawanya meraih kemenangan
pada putaran selanjutnya.
Namun saya angkat topi, bahwa bukan
kemenangan yang akhir nya menjadi
tujuan utama nya. Akan tetapi bagaimana
ia sanggup mengatasi rasa ego nya untuk
keluar dari kekecewaan ketika membukukan
skor 67 pada hari kedua. Dan memang dia
tak mampu mengungguli Mardan Mamat
sebagai pemenang, tetapi bagi saya ia adalah
pemenang terbesar karena mampu melakukan
sesuatu yang sulit di lakukan oleh siapapun
dalam kondisi keterpurukan, yaitu...BANGKIT.
Saya ucapkan selamat kepada Bang Mardan
atas keberhasilannya menembus entry list
dalam turnamen besar CIMB Asia Pacific Classic
Invitational di Mines Resort & Club Malaysia pada
bulan Oktober mendatang. Ucapan selamat
juga saya sampaikan kepada Michael Hendry
yang mampu “meredam” harapan pemain
bintang Shingo Katayama dalam Indonesia
Open Presented By Enjoy Jakarta sebagai juara.
Tentunya tak lupa kepada “jagoan-jagoan” kita
seperti Jamel Ondo, Andik Mauludin, Ayadi
Hermawan, Asep Caprie, Denny Wijaya dan
Suprapto yang berhasil melewati batas cut off.
Pesan saya, jangan membawa keberhasilan
lolos cut off kedalam comfort zone, sehingga
membuat kita lupa untuk melakukan perubahan
KEMAJUAN.
Selamat membaca
Ria Prawiro
Publisher/Managing Director
|
 |
|
|
 |
|