Comfort Zone

Pembaca yang terkasih,

Siapapun manusia di dunia ini tentunya mendambakan tingkat kehidupan yang mapan. Dan jika hal itu telah terwujud, maka siapapun tentunya tak ingin untuk melepaskannya. Memang merupakan perilaku yang manusiawi jika seseorang merasa enggan untuk beranjak dari suasana nyaman dalam kemapanan atau kondisi apapun.

Namun yang menurut saya cukup membahayakan adalah bukan persoalan kemapanan-nya, akan tetapi lebih kepada lingkaran kenyamanan-nya yang jika tidak dapat dikendalikan bisa membuat kita terperangkap ke dalam “sangkar emas” dengan regulasi kenyamanan yang statis atau disebut juga dengan COMFORT ZONE.

Berada dalam comfort zone atau zona kenyamanan membuat setiap pribadi sangat beresiko untuk menjadi TERLENA hingga tak mampu dan bahkan lebih parah lagi tak mau untuk melakukan inovasi kemajuan. Artinya pandangan hidup pun jadi menyempit ketika pergerakan dinamis yang terjadi diluar sana selalu ditanggapi dengan negatif. Padahal hal tersebut sebenarnya merupakan progres yang biasa dalam siklus kehidupan.

Mencintai pekerjaan memang merupakan hal yang baik. Namun yang lebih baik lagi menurut pandangan saya adalah mampu menyadari bahwa apa yang kita cintai itu sewaktu-waktu bisa hilang. Jadi tentunya jangan kita bawa apa yang kita cintai itu kedalam comfort zone. Karena “ketenangan” yang membuat kita TERLENA, mungkin lebih berbahaya dari pada “prahara” yang membuat kita terus TERJAGA.

Tentunya akan menjadi sangat ironis, jika tiba-tiba kita dihadapkan
kepada suatu persoalan diluar zona kenyamanan. Bukan masalah mampu atau tidaknya mengatasi kendala, karena bagi saya setiap kendala selalu ada jalan keluarnya. Akan tetapi lebih kepada hal ketidak mampuan untuk menahan “rasa sakit” nya karena terlalu lama terlena berada dalam comfort zone.

Beribu maaf jika harus saya katakan bahwa masih banyak para pegolf kita baik pro maupun amatir yang terjebak di dalam situasi kenyamanan statis seperti itu, termasuk beberapa orang terdekat saya. Dan hal itu yang menjadi tugas berat para pengayom untuk “menuntun” kembali mereka ke “dunia nyata”, dan kembali memotivasi mereka untuk segera “BANGKIT”.

Mampu BANGKIT dari keterpurukan merupakan bentuk kesuksesan yang saya anggap paling besar dari seseorang, ketimbang sekedar mampu meraih kejayaan.

Saya ambil contoh ketika pegolf Thailand, Thaworn Wiratchant, menerima kenyataan skor 78 pada hari pertama CIMB Asia Pacific Classic Invitational Regional Qualifier di Emeralda Golf Club pada tanggal 5 Juli lalu, yang mana dirinya pasti menyadari bahwa hanya “keajaiban” yang mampu membawanya meraih kemenangan pada putaran selanjutnya.

Namun saya angkat topi, bahwa bukan kemenangan yang akhir nya menjadi tujuan utama nya. Akan tetapi bagaimana ia sanggup mengatasi rasa ego nya untuk keluar dari kekecewaan ketika membukukan skor 67 pada hari kedua. Dan memang dia tak mampu mengungguli Mardan Mamat sebagai pemenang, tetapi bagi saya ia adalah pemenang terbesar karena mampu melakukan sesuatu yang sulit di lakukan oleh siapapun dalam kondisi keterpurukan, yaitu...BANGKIT.

Saya ucapkan selamat kepada Bang Mardan atas keberhasilannya menembus entry list dalam turnamen besar CIMB Asia Pacific Classic Invitational di Mines Resort & Club Malaysia pada bulan Oktober mendatang. Ucapan selamat juga saya sampaikan kepada Michael Hendry yang mampu “meredam” harapan pemain bintang Shingo Katayama dalam Indonesia Open Presented By Enjoy Jakarta sebagai juara.

Tentunya tak lupa kepada “jagoan-jagoan” kita seperti Jamel Ondo, Andik Mauludin, Ayadi Hermawan, Asep Caprie, Denny Wijaya dan Suprapto yang berhasil melewati batas cut off.

Pesan saya, jangan membawa keberhasilan lolos cut off kedalam comfort zone, sehingga membuat kita lupa untuk melakukan perubahan KEMAJUAN.


Selamat membaca

Ria Prawiro
Publisher/Managing Director

Copyright © 2010 Kariza Viratama. All Rights Reserved