 |
| Mengenal “Sisa Wajah” Keindahan Jalan Braga |
 |
 |
Bukan sekedar kelakar apabila dalam
dasawarsa tahun 1920 sampai tahun
1930 tercipta sebuah petuah kuno
yang menyatakan, “Para Tuan-tuan
Turis sebaiknya tidak mengunjungi
Bandung apabila tidak membawa istri atau
meninggalkan istri di rumah”.
Pertanyaannya adalah, apakah hal tersebut
merupakan sebuah citra buruk pariwisata
atau malah merupakan sebuah reputasi
pariwisata tersendiri dari kota yang pada jaman
pemerintahan Hindia Belanda di juluki Parijs
Van Java tersebut ?
Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak !
Secara moral, pepatah tersebut tentunya
merupakan sebuah konotasi yang negatif.
Namun disisi lain, anggapan tersebut
menunjukkan bagaimana grafik kunjungan
wisata di kota Bandung pada kurun masa itu
boleh dibilang luar biasa untuk ukuran sebuah
kota yang relatif tidak terlalu besar di wilayah
pulau Jawa bagian Barat tersebut.
Namun apapun anggapan masyarakat dahulu
dan kini tentang kota Bandung, sejarah reputasi ‘abu-abu’ tersebut berawal dari sebuah jalan ‘penghubung’ yang terletak di pusat kota
Bandung yang konon pada masa itu hanya
memiliki lebar kurang lebih 10 m atau 30 feet
(9,1 m) bernama Braga Weg (Jalan Braga).
Awalnya Jalan Braga adalah sebuah jalan
penghubung kecil sebagai Jalan lintas Pedati
dengan nama Pedatiweg yang terletak di
depan pemukiman yang cukup sunyi, sehingga
oleh para penduduk setempat sempat dijuluki
dengan nama “Jalan Culik” karena dianggap
cukup rawan.
Jalan Braga menjadi ramai ketika banyak
usahawan-usahawan berkebangsaan Belanda
mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan
di kawasan itu. Selanjutnya pada kurun tahun
1920 hingga 1930 an muncul toko-toko
dan butik (boutique) pakaian yang disain
bangunannya mengambil gaya arsitektur kota
Paris yang semenjak jaman dahulu merupakan
kiblat mode dunia.
Dengan didirikannya beberapa bangunan seperti
Societeit Concordia (kini Gedung Merdeka), Hotel Savoy
Homann serta beberapa gedung perkantoran disekitar
kawasan yang digunakan sebagai tempat pertemuan
para warga kalangan atas, meningkatkan kemasyhuran
dan keramaian jalan ini.
Namun sisi buruknya adalah dengan banyak
bermunculannya usaha hiburan malam serta ‘tempat
remang-remang’ atau prostitusi terselubung di kawasan
tersebut, membuat Jalan Braga sangat dikenal oleh para
wisatawan pada masa itu sebagai tempat tujuan wisata
para pria yang ‘kesepian’. |
 |
Dari kondisi itulah maka sejarah reputasi ‘miring’ kota
Bandung seperti hal-nya petuah kuno diatas tercetus, agar
para istri senantiasa waspada apabila sang suami tibatiba
ingin berkunjung ke Bandung. Dan disinyalir julukan
kota Bandung sebagai “Kota Kembang” pada beberapa
dekade berikutnya, bukan karena hanya banyaknya aneka
tanaman kembang yang tumbuh subur disana. Namun
lebih kepada tempat ‘bertumbuh’-nya para ‘kembang hidup’ alias mojang-mojang geulis sebagai ‘penghibur’
kaum jet-set di kawasan Bragaweg pada masa itu.
Hingga kini di sisi kanan kiri Jalan Braga masih berdiri
kompleks pertokoan dengan gaya arsitektur art deco
sebagai ciri khas bangunan di kota Bandung yang
dipadukan dengan gaya arsitektur bourgeoise dari
jaman keemasan Renaissance sebagai gaya arsitektur
khas kota Paris. Diantaranya adalah pertokoan Sarinah,
Apotik Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung
Asia Afrika yang dahulu bernama Societeit Concordia).
Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan
dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat
pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti
Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan
Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg) yang dibangun
oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Herman Willem
Daendels pada tahun 1811, sebagai jalan lintas utama
Gedung Merdeka.
Kenali juga bangunan menara klasik bergaya Eropa di
ujung Selatan pertigaan antara Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika (Postweg) yang hingga kini masih berdiri.
Bangunan yang dahulu bernama toko De Vries
tersebut dibangun pada tahun 1895 dengan
gaya arsitektur Oud Indisch Stijl (gaya klasik
Indies) dengan ornamen tiang-tiang kolom
yang besar. Seiring dengan perkembangan
Kota Bandung dan seni arsitektur, toko De
Vries dipugar oleh biro arsitek Edward Cuypers
Hulswitt pada tahun 1909.
Motto kota Bandung “Gemah Ripah Wibawa
Mukti”, memang telah tercermin dari kawasan jalan
Braga yang sejak jaman itu telah tertata dengan
nyaman, rapih dan eksklusif. Maka tak heran
apabila sejak masa pembangunannya hingga
sekarang para pengusaha kuliner di kawasan
Braga selalu dibanjiri oleh para pengunjung
dari kalangan atas, baik yang sekedar ingin ber
rendevous maupun mereka yang benar-benar
ingin menikmati hidangan makanan dengan
nuansa romantisme Eropa di musim panas.
Salah satunya yang paling legendaris adalah
Restoran Maison Bogerijen yang pada awal
usahanya berlokasi di sudut Bragaweg (Jln
Braga) dan Oude Hospitalweg (Jln Lembong),
namun kemudian berpindah ke selatan di
tengah-tengah Bragaweg.
|
 |
 |
 |
Bangunan restoran di lokasi baru dibangun
pada tahun 1923 dengan gaya bangunan
tradisional Eropa, yang mengingatkan kita akan bentuk Cafe dan rumah makan di Eropa Barat.
Sayangnya bentuk bangunan Maison Bogerijen
yang kemudian berganti nama menjadi Braga
Permai tersebut kini telah berubah dan sudah
tidak sama sekali mencerminkan gaya arsitektur
aslinya, walaupun masih beroperasi sebagai
restoran hingga sekarang.
Satu lagi bangunan paling bersejarah di
Jalan Braga adalah Toko van dorp terletak di
arah sebelah utara yang merupakan salah
satu dari deretan bangunan pertokoan di
Jalan Braga yang menggunakan arcade,
yaitu suatu konsep perencanaan bangunan
pertokoan yang bertujuan untuk memberikan
kenyamanan bagi pejalan kaki dengan fasilitas
trotoar di depannya.
Toko Van Dorp dibangun pada tahun 1922
berdasarkan rancangan arsitek Ir.C.P. Wolff
Schoemaker dengan gaya arsitektur Art Deco.
Ornamen kepala Batara Kala pada bagian depan
bangunan di sisi kanan dan kirinya merupakan
upaya untuk menyerap unsur budaya lokal,
seperti dijumpai pada sisi depan bagian atas
bioskop Majestic yang dirancang juga oleh
Meneer Wolff di ujung selatan jalan Braga.
Bangunan ini sempat dibiarkan kosong untuk
beberapa lama setelah berfungsi sebagai toko
buku hingga tahun 1960-an. Pernah digunakan
sebagai bioskop pada tahun 1970-an dan
kemudian menjadi tempat hiburan malam
di era tahun 80 an. Gedung bekas Toko Buku
Van Dorp tersebut sekarang berfungsi sebagai
tempat pameran yang diberi nama Landmark
Convention Centre.
Ibarat sebuah Mutiara yang hilang, Jalan
Braga kini telah sedikit ‘berubah wajah’ setelah
berdirinya tempat-tempat hiburan malam
dan pusat perbelanjaan modern. Namun bagi
para wisatawan sedikit banyak masih dapat
menikmati ‘ruruntug’ (reruntuhan) kejayaan
pusat hiburan, perbelanjaan dan bisnis di
kawasan paling legendaris di kota Bandung
tersebut dengan langsung mengunjunginya.
Selain tentunya mendatangi tujuan-tujuan
wisata belanja lain seperti Cihampelas,
Cibaduyut, Jalan Dago dan Jl. Ir. H. Juanda (Riau)
yang memiliki daya tarik outlet-outlet yang kini
menjamur di Kota Kembang Bandung. |
 |
|
 |
|
 |
Copyright © 2009 Kariza Viratama. All Rights Reserved |
|