Keseimbangan Dan Resolusi

Pembaca yang terkasih,

Banyak orang yang tidak mengetahui tentang hal yang baik saat mereka memilikinya, dan ketika semuanya telah menjauh barulah terasa bahwa betapa sulitnya untuk dapat meraihnya kembali.

Pandangan tersebut merupakan fenomena kehidupan yang sering ditemui di sekeliling kita, atau bahkan dialami oleh diri kita sendiri.

Dalam menyikapinya pun terdapat dua kemungkinan pilihan, yaitu dengan menyesalinya sedalam mungkin atau justru dijadikan modul pembelajaran sebagai pegangan hidup.

Tak sedikit kekecewaan yang mendalam terjadi ketika penyesalan menempati ruang utama dalam kehidupan. Namun tak sedikit juga kisah sukses seseorang yang belajar dari kesalahan.

Merekayasa KESEIMBANGAN dalam hidup, merupakan kalimat kunci yang menurut saya cukup menentukan bagi seseorang yang dihadapkan oleh pilihan hidup seperti itu. Untuk itu RESOLUSI dalam melakukan pembenahan sangat dibutuhkan demi mendapatkan titik keseimbangan tersebut.

Saya yakin ketika seorang Antthapon Prathummanee membuat resolusi untuk
meninggalkan karir golf-nya karena merasa frustasi akan perkembangan permainannya, bukan berarti dirinya berhenti berupaya keras untuk selanjutnya pasrah pada kenyataan hidup. Namun lebih kepada upaya menyeimbangkan kinerja yang dijalaninya selama ini dengan fakta yang terjadi.

Hasil positif-nya terbukti ketika resolusi tersebut akhirnya menjadi kesimbangan prestasi yang sangat berarti bagi dirinya melalui keberhasilannya menjuarai Mercedes- Benz Masters Indonesia di Emeralda.

Begitupun resolusi saya bersama Kariza untuk senantiasa melakukan beberapa pembenahan di berbagai sektor dalam waktu-waktu kedepan, tentunya bukan sesuatu bentuk rencana yang semata-mata melibatkan emosi diri. Namun lebih dari sebuah penyeimbang akan kenyataan yang berlaku selama perjalanannya, agar menghasilkan nilai-nilai kehidupan yang diharapkan, sehingga dalam penanganannya nanti tidak menjadi lebih besar pasak dari pada tiang.

Kegagalan seseorang untuk menyeimbangkan kesuksesan karirnya dapat kita temui pada edisi majalah The Flag bulan November 2010 ini dalam dua sisi pandang yang menarik.

Sisi pertama adalah bagaimana di awal bulan ini Tiger Woods gagal mempertahankan reputasi gemilangnya sebagai pegolf nomor satu dunia akibat tak mampu menyeimbangkan karir dengan kehidupannya. Di sisi yang kedua, resolusi pegolf Inggris Lee Westwood untuk mengangkat dirinya dari keterpurukan justru mampu menyeimbangkan kemerosotan prestasinya secara perlahan-lahan untuk akhirnya muncul sebagai pegolf terbaik dunia menggantikan nama besar Tiger Woods saat ini.

 

Selamat membaca

Ria Prawiro
Publisher/Managing Director

Copyright © 2010 Kariza Viratama. All Rights Reserved