meninggalkan karir golf-nya karena merasa
frustasi akan perkembangan permainannya,
bukan berarti dirinya berhenti berupaya
keras untuk selanjutnya pasrah pada
kenyataan hidup. Namun lebih kepada upaya
menyeimbangkan kinerja yang dijalaninya
selama ini dengan fakta yang terjadi.
Hasil positif-nya terbukti ketika resolusi
tersebut akhirnya menjadi kesimbangan
prestasi yang sangat berarti bagi dirinya
melalui keberhasilannya menjuarai Mercedes-
Benz Masters Indonesia di Emeralda.
Begitupun resolusi saya bersama Kariza untuk
senantiasa melakukan beberapa pembenahan
di berbagai sektor dalam waktu-waktu
kedepan, tentunya bukan sesuatu bentuk
rencana yang semata-mata melibatkan emosi
diri. Namun lebih dari sebuah penyeimbang akan kenyataan yang berlaku selama
perjalanannya, agar menghasilkan nilai-nilai
kehidupan yang diharapkan, sehingga dalam
penanganannya nanti tidak menjadi lebih
besar pasak dari pada tiang.
Kegagalan seseorang untuk menyeimbangkan
kesuksesan karirnya dapat kita temui pada
edisi majalah The Flag bulan November 2010
ini dalam dua sisi pandang yang menarik.
Sisi pertama adalah bagaimana di awal bulan ini
Tiger Woods gagal mempertahankan reputasi
gemilangnya sebagai pegolf nomor satu dunia
akibat tak mampu menyeimbangkan karir
dengan kehidupannya. Di sisi yang kedua, resolusi
pegolf Inggris Lee Westwood untuk mengangkat
dirinya dari keterpurukan justru mampu
menyeimbangkan kemerosotan prestasinya
secara perlahan-lahan untuk akhirnya muncul
sebagai pegolf terbaik dunia menggantikan nama
besar Tiger Woods saat ini.
Selamat membaca
Ria Prawiro
Publisher/Managing Director