 |
 |
 |
 |
Lee Westwood
Di Puncak Dunia Tanpa Gelar Major
Sambil menyantap mashed potatoes yang
dibelinya sendiri di sebuah super market dekat
rumahnya, tim management serta beberapa
anggota keluarganya langsung membuka sebotol
champagne untuk merayakan Kejayaan Lee
John Westwood meraih peringkat ke satu dunia,
sesaat setelah menyaksikan dari layar televisi
bagaimana Martin Kaymer berjalan di hole
terakhir Valderama Golf Club di posisi T21.
Tak ada peluh yang menetes, tak ada
tekanan mental yang membebani dan
bahkan tak ada putaran pertandingan
yang harus dijalani ketika pada hari
Minggu tanggal 31 Oktober 2010
lalu, Lee Westwood, secara resmi dinyatakan
sebagai pegolf nomor satu dunia berdasarkan
perhitungan Official World Golf Ranking (OWGR),
untuk sekaligus menghentikan dominasi Tiger
Woods yang sebelumnya telah berada di posisi
tersebut selama 281 minggu terakhir, sejak ia
merebutnya kembali dari tangan Vijay Singh
pada tanggal 12 Juni 2005 yang silam.
Perhitungan akumulasi OWGR memang cukup
unik dan pelik untuk diikuti, dimana sistem
perhitungannya tidak melulu mengacu pada
penambahan point. Namun dapat terjadi pula
pengurangan point apabila pemain yang
bersangkutan tidak memenuhi standar kriteria
yang ditentukan berdasarkan performa, jumlah
turnamen maupun tingkat reputasi turnamen
yang tidak diikuti dalam kurun waktu tertentu.
Hal itu yang terjadi terhadap Lee Westwood,
ketika ia menerima |
gelar barunya sebagai
Nomor Satu dunia dari “luar lapangan”, yaitu
di kediamannya di Worksop, Inggris, sambil
mengamati perkembangan pesaing terdekatnya
Martin Kaymer yang tengah bertarung di
Spanyol dalam Andalucia Masters melalui
jaringan internet dan televisi. Pasalnya secara
perhitungan Martin Kaymer akan menduduki peringkat pertama dunia jika dirinya mampu
menjuarai atau minimal menduduki posisi
ke dua dalam seri European Tour tersebut.
Sebaliknya apabila Kaymer gagal menembus
posisi dua besar, maka pengurangan point
terhadap Tiger Woods dalam minggu tersebut
cukup membuat margin yang signifikan untuk
membawa Lee Westwood ke puncak dunia.
Sambil menyantap mashed potatoes yang
dibelinya sendiri di sebuah super market dekat
rumahnya, tim management serta beberapa
anggota keluarganya langsung membuka
sebotol champagne untuk merayakan Kejayaan
Lee John Westwood meraih peringkat ke satu
dunia, sesaat setelah menyaksikan dari layar
televisi bagaimana Martin Kaymer berjalan di
hole terakhir Valderama Golf Club di posisi T21.
|
 |
Lee Weswood menjadi pegolf ke 13 yang
berhasil mencapai puncak Official World Golf
Ranking sejak sistem akumulasi perhitungan
peringkat tersebut diperkenalkan pada tahun
1986, sekaligus menjadi orang Inggris ke dua
setelah Sir Nick Faldo meraihnya untuk pertama
kali pada tahun 1990.
Westwood juga tercatat sebagai pegolf ke
empat yang mampu mencapai peringkat ke
satu dunia tanpa gelar major championship
bersama nama-nama lain seperti Ian Woosnam,
Tom Lehman dan David Duval.
Mungkin tidak seorang pun masyarakat golf
kita yang menyangka saat tiga tahun yang lalu
Lee Westwood hadir di Damai Indah Golf, BSD
Course, dalam Pertamina Indonesia President
Invitational 2007, bahwa pria kelahiran Worksop,
Inggris, 24 April 1973 tersebut suatu saat bakal
menjadi orang pertama dalam lima tahun
terakhir yang berhasil “meruntuhkan” dominasi
Tiger Woods sebagai pegolf nomor satu dunia,
dimana saat itu peringkat Westwood masih
berada di zona 200 besar OWGR.
Lee Westwood akan memulai debutnya
sebagai pegolf nomor satu dunia dari benua
Asia dalam dua turnamen bergengsi di bulan
November 2010, masing-masing WGC-HSBC
Champions di Sheshan International Golf Club,
Shanghai, dan Barclays Singapore Open 2010 di
Sentosa Golf Club, Singapore. Dan menariknya
dalam WGC-HSBC Champions, ia akan bertemu
dengan Tiger Woods yang ketika dikonfirmasi
sempat melontarkan komentar bahwa dirinya
akan melakukan “quick return” untuk merebut
kembali singgasananya tersebut.
Sepertinya sudah merupakan suatu
keharusan bagi Lee Westwood untuk
membuktikan reputasinya sebagai pegolf
nomor satu dunia dalam dua turnamen
besar di Asia tersebut. Apalagi masyarakat
golf dunia mengetahui bahwa gelar tersebut
diraihnya secara antiklimaks.
|
|
 |
|
 |
|